Cerpen


Hujan Kemarin”
Hari ini adalah hari pertama aku masuk ke sekolah baru, setelah pindah dari SMA Cempaka. Kini sekarang aku di SMA Terpadu. Perasaan ku selalu saja berdebar, pasti nanti aku dapat teman baru, sahabat baru dan juga guru yang baru. Aku pindah kesini karena aku ikut orang tuaku, berat rasanya pindah dari sekolah, guru dan teman lamaku tapi bagaimana lagi... Semuanya telah aku siapkan matang-matang dari seragam, buku, hingga peralatan lainnya. “aku siap, aku siap”, batinku terus saja mengucapkan kata itu. Sekarang masih pukul 06.30 aku akan segera mandi dan sarapan J.
Aku kini sudah berada di depan gerbang, berdebar rasanya. Di antar oleh seorang guru aku masuk ke sebuah kelas, “ku siap bertemu dengan kalian” bantiku terus gemetaran. Hingga aku memasuki kelas tersebut,
“baiklah anak-anak, kita rupanya dapat teman baru, boleh tahu siapa namanya?” guru itu bertanya dengan ramah.
“hai teman-teman perkenalkan namaku Roro Rahayu  , saya pindahan dari SMA Cempaka Surabaya. Terimakasih, mohon bantuannya teman-teman.” Sapaku ramah
“baik Roro, sekarang kamu boleh duduk. Pilih bangku yang kamu suka.”
“terimakasih Ibu.” Aku bersalaman kemudian duduk.
Kebetulan aku duduk di samping seorang anak laki-laki, aku hanya tersenyum ramah. Dia sempat bicara, “salam kenal ya, namaku Rio.” Lalu dia juga mengajak aku bersalaman, dan ternyata dia adalah ketua kelas ini.
Jam istirahat akhirnya tiba juga, aku di ajak kenalan oleh hampir semua anak di kelas ini. Kecuali seorang anak laki-laki yang duduk di pojok mengamati aku terus dari tempat duduknya, wajahnya datar menatapku dengan penuh penasaran. Aku mencoba menghiraukan dia, entah siapa namanya aku tak tahu. Tapi aku sudah mendapatkan teman baru namanya Well, Ayuk dan Putri. Mereka sangat ramah padaku, lalu mereka mengajakku untuk berkeliling sekolah ini selama jam istirahat.
“terimakasih ya kalian mau berteman sama aku” aku mencoba mengajak mereka ngobrol.
“ya pasti, kita kan semua teman” Ayuk bicara dengan suara keras, maklum dia kan agak tomboy.
“Ayuk, biasa aja dih. Gak enak kali kamu bicara kenceng gitu?” tegur Putri yang ramah...
“Nah kalau itu ruang musik, asyik kalau kita sudah gabung di grup mereka.” Well tetap asyik bercerita
“oh ya, senang rasanya kalau bisa bergabung dengan mereka.” Khayalku
“so pasti, kelas kita aja cuman satu yang bisa masuk sana. Bagus namanya.”
“Bagus itu yang mana, kok aku belum tahu ya?” nada penasaranku tumbuh.
“itu anak cowok yang duduk di pojokan.?”Well mencoba menjelaskan
“oh jadi anak itu namanya Bagus, anak yag ikut ke group musik sekolahan yang di kenal dengan permainan drum nya yang keren, dan ternyata Baguslah pemain drum nya.” Batinku...
“krrrriiiinnggg!!!!” bel masukpun terdengar, kami langsung masuk ke dalam kelas agar tidak tertinggal pelajaran. Pelajaran terasa singkat hingga bel pulangpun tiba-tiba terdengar. Semuanya sudah keluar kecuali aku dengan Bagus yang masih ada di kelas. Aku memberanikan diri untuk bicara dengan anak itu.
“haii, apa benar nama kamu Bagus?”
“iya, ada apa? Bagaimana kamu tahu?”
“Well tadi cerita sama aku, dan kamu ikut band musik sekolah ya? Kira-kira boleh tidak ya aku bergabung bersama dengan kalian?”
“apa kamu mau bergabung?” dia tiba-tiba kaget
“iya boleh kan? Aku pingin punya lebih banyak teman disini?”
“iya tidak apa-apa kok, boleh bergabung, besok aku bilang sama pembinanya.”jawabnya ramah
“Tak ku sangka ternyata anak band seperti dia yang di kenal cuek bisa ramah ya?, dia ternyata baik. Mungkin tadi dia kaget karena senang” batinku. Sepanjang jalan masih saja teringat dengan Bagus. Masih juga sehari aku disana sudah banyak pengalaman. Sampai rumah aku langsung ganti baju lalu makan siang, karena belum banyak teman aku langsung tidur siang.
Tak terasa langit sore sudah menyapa, untung ibuku membangunkan ku, kalau tidak aku nggak bangun. Maklum aku ini kan anak yang doyan tidur. Menghabiskan waktu membantu ibu dan bercerita pengalaman di sekolah bersama ibuku asyik juga,
“gimana, kamu suka sekolah disana?” ibu bertanya dengan wajah datar
“iya suka kok bu, senang punya teman baru”
“ya baguslah kalau seperti itu, memang itu yang ibu harapkan”
“iya bu,” jawabku sambil terawa kecil namun ibuku tidak tahu.
Tak terasa langit sore tadi kini berubah menjadi malam yang cerah, dan esok hari akan menyambutku. Setelah selesai belajar malam ini aku lansung tidur, “cepat tidur, cepat bangun” batinku.
Akhirnya pagi juga, aku siap menyambut pagi ini dengan senyuman, pergi ke sekolah dan menyambut teman-teman ku. Aku nyaman disini, senang dengan teman-teman ku yang sekarang, dengan Well, Ayuk dan Putri. Mereka semua lebih bisa mengerti arti dari kebersamaan dan juga persahabatan. Tak terasa sudah lumayan lama aku sekolah disini, kuran lebihnya satu semester dan aku sudah masuk ke group band sekolah bersama Bagus dan teman-teman lainnya.
Namun hari ini tak seperti biasanya, Bagus tidak masuk ke kelas namun dia di ruang musik sendiri, saat jam istirahat aku mengampiri nya, dan menanyakan ada masalah apa dia sampai dia tidak mau ikut pelajarn. Saat aku masuk ke ruang itu, dia langsung menutup pintu, entah apa yang akan dia lakukan, aku merasa takut karena hanya aku dan dia yang ada di ruang itu saat itu juga. Tiba-tiba dia bicara,,,
“akhirnya kau datang kesini juga, sendiri pula,” tatapannya tajam
“ada apa ini, mengapa aku di kurung disini hanya denganmu?” aku lemas dan panik.
“jangan takut” tiba-tiba dia mengeluarkan sesuatu “maukah kau jadi pacar ku.....”
“apa?? Nggak salah kamu berikan itu padaku?” aku terkejut juga senang.
“aku serius Roro, aku sayang sama kamu, aku cinta kamu, selama ini yang aku nantikan ini adalah kamu, dan semua surat kaleng itu, aku yang membuatnya?” tatapan matanya tajam, aku hanya bisa tersenyum dan meneterkan airmata karena kaget, dan dengan itu aku sudah menerimanya.
Kini terjawablah sudah teka-teki selama ini, tentang surat kaleng yang setiap hari ada di dalam laci meja dan juga seseorang yang selalu mengirim kata-kata romantis, ternyata Bagus yang telah melakukan ini semua. Dia menjadi penggemar rahasia ku. Terakhir surat kaleng bersama mawar, dan puncaknya dia memberi kejutan padaku. Tak lama setelah kita berdua jadian semua orang hampir tahu hubungan kita, Well, Ayuk dan Putri minta di traktir aja. Katanya “PJ” haha memang lucu mereka itu. Di band itu aku sebagai vokalis dan Bagus sebagai pemain drum, “cocok deh Bagus dan Roro?” teriak Ayuk sampai semua mata tertuju pada aku dan Ayuk.
Hari-hariku selalu bersama Bagus, senang rasanya bisa bertemunya di kelas ini. Dimanapun selalu ada Bagus yang selalu menemaniku, senang rasanya. Dia sering mengucapkan kata-kata cinta, dan membuatku terhanyut dalam kata-katanya. Dia juga selalu memberiku kejutan, entah apapun itu pasti dia selalu membuatku tersenyum. Namun dengan adanya Bagus, aku juga tidak akan melupakan ketika sahabat terbaikku. Well yang bijaksana, Ayuk yang tomboy dan satu lagi dia Putri yang kalem kaya anak keraton. Kalau Bagus beda dia wajanya cuek tapi hatinya baik sekali, dia sangat romantis, kata-katanya selalu membuat hati tenang. Dan dia juga yang selalu bisa membuatku tersenyum.
Hingga pada suatu hari...
Bagus tidak berangkat, entah apa penyebabnya? Padahal tadi malam baik-baik saja dan tidak ada masalah. Kebetulan saja hari ini dia juga tidak menghubungiku, entah apa yang terjadi. Aku berusaha berfikir positif, dia sedang ada acara keluarga mendadak. Ku tunggu dia menghubungiku, namun hingga malam tiba aku tak dapat kabar darinya... akhirnya ada pesan masuk “maaf sayang aku sedang ada acara jadi aku belum bisa menghubungimu.. love You”. Entah apa maksudnya aku tak tahu, aku hanya terdiam dalam keheningan malam yang berawan. Hawa dingin udara malam yang masuk melalui ventilasi kecil semakin menusuk tulang, lama-lama akupun mulai terlelap.
Hingga mentari menyapa, tidak ada kabar lagi dari Bagus. Aku kali ini sudah tidak bisa berfikir apa-apa lagi, fikiranku terisi oleh Bagus yang lagi-lagi tidak berangkat, sebenarnya ada apa? Sepanjang pelajaran juga aku tidak bisa konsen, selalu di tegur oleh guru yang sedang mengajar.
“Roro, jangan melamun di jam pelajaran Ibu!” dengan tegas Bu Dewi menegurku
“ehh, iya Bu maaf.” Aku terbangun dari lamunanku.
Entah kenapa aku ini, perasaanku juga di selimuti fikiran yang tidak enak oleh Bagus, hingga jam berakhirnya pelajaranpun berbunyi. “kkrriiiiing!!”. Aku seperti biasa pulang menunggu jemputan Mas Boy di depan sekolah, “tumben Mas Boy jemputnya lama?, mungkin lagi macet?” tanyaku dalam hati. Aku dengan santai menunggu, seperti biasa sambil menghabiskan snack yang sedikit masih tersisa. Well, Ayuk dan Putri sudah pulang. Hanya menatap jalan dengan cemas dan tiba-tiba,,,,,,
“eh itu kan Bagus, dengan siapa itu, naik motor berdua?” aku kaget sehingga aku tak bisa berbicara apa-apa lagi. Tak lama setelah itu Mas Boy datang, “maaf neng, tadi jalan macet. Ayo pulang” sambil membukakan pintu mobil. Aku hanya terdiam masih mengingat kejadian tadi, aku masih berfikir apakah itu benar-benar Bagus ataupun bukan?. Banyak pertanyaan yang terlontar di dalam hati, hingga kini aku tak bisa membendung air mataku yang dari tadi menarik perhatian Mas Boy. “neng kenapa kok nangis? Ada masalah ya neng?”. Aku hanya terdian sambil mengambil kertas tissue, dan sekali lagi aku melihat  Bagus dengan mengenakan seragam sekolah bersama seorang wanita entah siapa yang membuat kondisi tubuhku semakin lemah, dan.........
Aku terbangun, hari sudah malam dan ada ayah serta ibuku yang menemani aku di kamar serba biru milikku. Aku sempat bingung apa yang telah terjadi. “aku kenapa Bu,.. kepalaku pusing.” Ibuku menjabab “nak, tadi kamu pingsan saat perjalanan pulang, kamu menangis? Ada masalah apa?” Ibuku bertanya dengan nada khawatir. Kemudian aku menceritakan apa yang aku lihat tadi saat perjalanan sepulang sekolah. Ibuku paham posisiku, dan tiba-tiba kondisi ku semakin lemah semenjak kejadian itu. Hingga aku tidak berangkat sekolah selama beberapa hari dan Well, Ayuk dan Putri menjengukku di rumah, tanpa Bagus ada diantara mereka.
“hai, bagaiamana keadaanmu? Kita semua kangen sama kamu, cepat sembuh ya.” Sapa Putri dengan ramah.
“iya aku tidak kenapa-kenapa kok, aku besok juga udah sehat.” Balasku dengan dengan senyum.
“ayo Ro, Kamu harus cepat sembuh, kamu jadi ketinggalan gosip tentang Bagus di sekolah...” tiba-tiba ucapan Ayuk terhenti setelah dia mengetahui kalau dia salah bicara.
“apa maksud kamu gosip tentang Bagus?”  aku menjadi kaget, ingin tahu apa yang terjadi.
“kamu ngomong apa sih yuk, ngawur aja, gak kenapa-kenapa kok Ro, tenang aja ya.”
“Well, cerita sama aku, ada apa. Pliss.. aku Tahu kamu tahu semuanya” aku memaksa Well untuk bercerita, karena aku melihat sesuatu dari tatapan matanya.
Semuanya tidak ada yang mau menjawab apa pertanyaanku, semuanya diam saja. Ada kebohongan apa ini? “Well, kumohon jangan diam saja. Katamu kita semua teman harus saling berbagi.” Well langsung terperanjat dari kursi sofa yang ada di dekat pintu kayu itu. Well akhirnya mendekatiku, dengan tatapan yang berbeda dari biasanya, dia lebih serius kali ini. Dia menghampiriku lalu duduk di samping tempat tidurku. “Roro, aku tahu kamu kuat, kamu jangan sedih ya? Kamu harus kuat. Hapus semua airmatamu karena Bagus.” Dia berbicara benar-benar serius. “bilang sama aku apa yang sebenrnya terjadi dengan Bagus, tentang seorang Cewek yang dia bonceng.”ujarku,  “sabar Roro, jadi begini.. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .”
Well, menceritakan semuanya dari awal hingga akhir, aku hanya bisa diam. Ternyata dugaan ku selama ini benar, Bagus telah mengkhianatiku. Setelah akhir-akhir ini dia menjauh dari aku, dia sering sekali berbohong kepadaku, aku sempat sadar namun aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah tak lama setelah semuanya terungkap, aku jadi merasa tidak ada semangat lagi untuk berada disini. Aku seolah menjadi mayat hidup di sekolah maupun di rumah. Aku sekarang jadi rentan, bukan Roro yang dulu yang selalu kuat dan ceria. Aku sekarang jadi lebih intin untuk mengurung diri di kamar, membuang semua kenangan, yang ada kini hanyalah tangisan, tangisan tangisan. “Aku rasa semua ini membuatku jadi tak berdaya, tak ada yang bisa aku lakukan”. Sambil aku melempar foto-foto bersama Bagus. Kemudian aku hanya bisa jatuh terduduk di pojokan kamar. Aku hanya bisa menangis. “Roro, makan dulu sayang, kamu sudah berhari-hari seperti ini” ibu penuh perhatian menawariku makan dan aku hanya bisa menutup telinga dan mataku.
“pergi.. pergii...” aku berontak
“ayo neng makan, ini ada makanan kesukaan eneng.” Mas Boy lagi-lagi merayuku.
“ayo sayang, semua akan baik-baik saja, “ Ayah yang baru pulang lagsung membujukku makan.
“pergii,,, pokoknyaa, semuanya pergii,,, perggii..”
“kelihatannya tak ada yang bisa membujuknya, kecuali Bagus ayah.” Ibu berbisik
berhari-hari aku hanya di rumah sudah beberapa hari aku hanya berada di kamar, semua ini kelihatan bodoh. Sambil menatap seisi kamarku serasa berada di tumpukan sampah.
“Tak dapat kini lagi rasanya ku tersenyum karena Bagus, dia yang membuatku menjadi lemah tak berdaya.” Guman ku dalam hati. Hingga akhirnya aku terbaring di kamar yang sepi, aku hanya terbaring lemah, seakan semuanya ini tak berdaya. Berhari-hari ku ratapi semua ini, tak satu detilpun yang bisa terlewatkan. Hingga suatu siang Well, Ayuk dan Putri mejengukku untuk meghiburku.
“Hai guys,”
“Hai Roro Rahayu.. haha” ledek Ayuk kepadaku.
“Biasa aja deh Yuk haha,,” aku bisa tersenyum dan tertawa, tapi hati ini masih menangis.
“Udahlah, jangan nangis gitu, semangat donk.”
“Iya Well.. sedang usaha nihh..”
Mereka terus saja mengajakku unyuk menjadi lebih baik lagi, aku senang dengan kedatangan mereka karena mereka lah beban ku merasa lebih ringan. Kita bercanda untuk melupakan Bagus, walaupun aku sudah memutuskan Bagus beberapa hari yang lalu, tak ingin lagi rasanya ku mengenal Bagus dan Cinta. “Sudahlah Soro,” sesekali Well mengingatkan aku.
Hingga tiba-tiba saat aku berada di teras rumah bersama Well, Ayuk dan Putri seseorang berhenti di depan rumah, memakai Motor yang lumayan besar aku tak mengenalinya hingga orang itu membuka helmnya dan akupun terkejut kalau itu adalah Bagus.
“Hallo sayang, bagaimana kabarmu?” dia melambaikan tangan dengan wajah tanpa dosa.
“Bagus,,” aku hanya bisa terdiam
“Apa yang kamu lakukan disini,  pergi sana.!” Ayuk langsung menyambar seperti petir
“Guys, tenang. Semuanya itu bisa aku jelaskan?” rayunya sambil menatapku
“Sudahlah tak ada lagi yang perlu di jelaskan, kurasa semuanya sudah jelas. Semuanya sudah tahu, pergi kamu dai sini. Kumohon” aku juga tak sanggup membendung airmata ini
“Roro, ku mohon maafkan kesalahanku, aku mengaku aku salah, aku ingin kita seperti dahulu lagi”
“Sudah terlambat, tak ada yang bisa di perbaiki lagi, karena semuanya telah hancur, aku tak ingin hancur ini bertambah parah.” Aku mengis di pelukan Well dan tak sanggup menatap matanya.
“Roro, kumohon kali ini saja, aku berjanji akan bisa seperti dahulu lagi, ayo kita berdua merngkai jalinan cinta yang baru, anggap saja semua ini tak pernah terjadi” dia memohon sambil meneteskan airmata
“Sudah, Bagus ku mohon kamu pergi dari sini kalau kamu memang ingin Roro tidak kenapa-kenapa. Sudah jangan banyak bicara kumohon tinggalkan kami” Putri dengan tegas memisahkan pertengkaran ini.
“Roro, sudah jangan di ambil hati, tenang ya. Aku tahu kamu masih terluka, kamu istirahat saja ya.”
Aku menuju ke kamar di antar oleh ketiga sahabatku, mereka tidak bicara apa-apa. Aku tahu apa yang mereka lakukan ini agar aku tidak teringat lagi olah kejadian barusan. Mereka berpamitan namun aku tidak bisa mengantar sampai ke depan karena aku masih takut dan kondisiku juga tidak mendukung aku lagi untuk bangkit.
“maaf ya...” sebelum aku selesai bicara Ayuk sudah bicara lebih cepat dariku.
“oke tidak masalah. Kami ngerti kok, cepat sembuh sobat.” Ayuk memotong pembicaraan sambil keluar kamar Biruku penuh Boneka.
aku hanya terdiam, termenung menatapi seisi kamarku, aku tatap satu persatu apa yang ada hingga aku melihat sebuah pensil dan kertas. Aku langsung menggapai itu kemudian menuliskan sesuatu. Ini adalah curahan hatiku, semua apa ayng aku fikirkan tertulis dan tergambar oleh coretan kata..
 Entah apa yang sebenarnya terjadi, yang ku alami ini di ibaratkan seperti hujan yag bertubi-tubi menyerang ku, entah kapan berhentinya aku tak tahu, namun hujan itu banyak sekali, dan jika kita bisa merasakan itu juga sangat sakit sekali. Hujan kemarin yang menimpa aku, yang membasahiku dan  yang telah melukai hatiku,  ku tuliskan dalam suatu lagu yang aku ciptakan...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi :)

Tip Meningkatkan Karma Pada Plurk

"24 Agustus 2013"