Cerpen "Hikmah Kehidupan"
Hikmah
Kehidupan
Dunia
selalu terbuka untuk semua hamba Tuhan. Untuk berbuat 2 hal, yaitu “kebaikan”
dan “kejahatan”. Kejahatan yang di lakukan tidak akan memiliki hasil yang
sangat besar, sedangkan kebaikan dan kebajikan akan memiliki hasil yang sangat
besar dari Tuhan.
Akhir
puasa ini, aku menengok saudara ku yang jauh ada di kota Jogjakarta. Suasana
terasa sangat sepi, hingga suatu saat perut ku terasa lapar dan tidak segan-segan
mulai bernyanyi. Aku mulai mencari tempat makan, karena ini hari menjelang Hari
Raya tak banyak tempat makan yang buka di sepanjang jalan yang aku lihat. Aku mengendarai
mobil ini sudah hampir setengah jam, sampai aku menemukan warung kecil yang
berjualan bakso. Disana aku menghentikan langkah ku dan aku mulai masuk ke
dalam warung kecil itu dan aku memesan satu mangkuk bakso beserta es teh. Di
satu sisi aku melihat sepasang kekasih yang sudah tua bersama tiga orang
anaknya yang masih kecil-kecil. Mereka sangat menikmati hidangan yang tersedia,
walaupun hanya bakso dan es teh mereka terlihat sangat senang sekali. Ketiga
anaknya juga terlihat sangat menikmati, betapa senangnya mereka. Sampai pak
penjual bakso itu mengantarkan pesanan ku, aku pun masih melihat keluarga
bahagia itu. “terimakasih pak”, ucap ku.
Aku
pun melihat keluarga itu sambil aku makan bakso juga sambil melihat keluarga
itu, aku melihat istri dari keluarga itu sedang mengerluarkan kantong palastik
hitam, yang ternyata berisi uang ribuan dan receh yang banyak dan terlihat
sangat kotor. Aku pun tertegun melihat itu.
“apa
mereka akan membayar makanan itu dengan menggunakan uang itu?”, batin ku
Aku
pun merasa tak tega melihatnya dan aku hanya bisa terdiam saat itu. Suasana
sore hari sangat terasa lekat dan langit yang semula berwarna cerah kini
sekarang sudah mulai redup.
“pak,
semua uang hanya ada 32.000.” kata sang istri dengan wajah sangat sedih.
Kemudian sami dari keluarga itu memanggil tukang bakso dan menanyakan habis
berapa mereka semua.
“pak,
habis berapa ya semuanya?” tanya si bapak tua itu.
“oh,
sebentar... totalnya semua 46.000 rupiah pak.” Jawab tukang bakso itu sambil
membawa kalkulatornya. Kemudian bapak itu merogoh dompet yang ada di saku
celananya dan membukanya. Tak sengaja aku melihat itu dan isinya ternyata
kosong, aku pun sangat kaget dan sambil berfikir, “apa mungkin semua itu
cukup?” batin ku. Tukang bakso itu sudah cukup lama menunggu bapak itu berfikir
kemudian meninggalkannya.
Aku
merasa tak tega dengan melihat kejadian itu. Bapak dan istrinya itu sudah tua
dan harus menghidupi ke tiga anaknya yang masih kecil, aku pun memanggil tukang
bakso untuk meminta tambahan bakso sambil menunggu keluarga itu.
“pak,
saya minta tambah bakso ya.” Teriak ku kepada tukang bakso itu.
“iyaa,!”
jawab tukang bakso itu dari kejauhan.
Aku
terus memadangi mereka dari kejauhan, bukan karena apa-apa aku hanya merasa
kasihan sekali dan tidak tega dengan keadaan apa yang sedang di hadapi dengan
keluarga itu. Mungkin bagi kita yang mampu uang sebesar itu belum ada
apa-apanya, tetapi bagi mereka uang itu adalah lebih dari segalanya. Mereka
sudah menganggap uang sebesar itu sudah sangat banyak sekali, bisa untuk makan
beberapa hari kedepan. Wajah mereka sudah seperti putus asa dan seperti tidak
ada harapan lagi, karena tempat aku duduk tidak jauh dari mereka jadi aku bisa
mendengar apa yang mereka bicarakan.
“pak,
bagaimana ini. Uang kita tak cukup?” keluh sang istri.
“saya
juga bingung bu.” Kata sang bapak sambil melihat ke tiga buah hatinya yang
sdang asik melahap bakso dan minum es teh.
Tak
lama setelah bapak dan ibu itu mengobrol, aku merasa tau apa yang harus aku
lakukan. Kemudian aku menghampiri mereka dan aku duduk di sebelah bapak yang
sudah tua itu.
“sepertinya
bapak sedang dalam masalah?” tanya ku
“maaf,
sebenarnya iya saya hari ini mengajak anak-anak untuk makan bakso karena
sepanjang hidup mereka baru kali ini mereka menikmati bakso dan mereka
menyukainya.” Jawab bapak itu tanpa rasa malu. “masalahnya uang hasil kami
bekerja beberapa hari kerja masih kurang untuk membiayai mereka. Mungkin ini
adalah pertama dan terkhir kalinya mereka menikmati bakso.” Jawab bapak tua itu
dengan nada putus asa.
“sudah
bapak tidak usah menggunakan uang ini untuk membayar semuanya, biar saya saja.
Jujur saya dari tadi mengamati bapak entah apa ini jalan dari Tuhan saya ingin
membantu bapak.?” Jelas ku dengan tenang. “tapi, apa anda benar-benar ikhlas
melakukan semua ini?” tanya bapak itu dengan ragu-ragu dan meminta pendapat
istrinya.
“saya ikhlas pak, ini
rejeki dari Tuhan yang di berikan kepada bapak melalui saya, sudah simpan saja
uang ini untuk menghidupi keluarga bapak, juga untuk makan anak-anak bapak
beberapa hari ke depan.” Aku mencoba meyakinkan bapak itu. Wajahnya sangat
berbinar-binar, terlukis wajah kebahagiaan yang sangat nyata. “terimaksih ya,
semoga anda di beri kesehatan, rejeki yang melimpah, juga kelimpahan selalu
dari Tuhan ya. Saya Matur nuwun
sekali sudah di bantu. Sekali lagi terima kasih ya.” Seru bapak itu sambil
meneteskan airmata bahagia nya kemudian bapak itu menatap istrinya penuh
bahagia pula. “terimakasih banyak, matur
suwun sanget.” Kata si istri itu sambil berjabat tangan kepada ku.
“iya, sama-sama pak,
buk. Sudah saya bilang ini adalah rejeki dari Tuhan. Berterimakasih lah
kepada-Nya ya pak, buk.” Jawab ku dengan bahagia. Aku sangat bahaia sekali bisa
membantu orang yang benar-benar membutuhkan. “Matur suwun duh Gusti.”seru sang bapak tu kembali memandang wajah
istrinya.
“pak, buk saya duluan,
nanti semuanya akan saya bayar kepada tukang bakso. Dadah adek kecil.” Sapa ku
sambil meninggalkan bapak itu dan berjabat tangan kepada mereka semua juga
kepada anak-anak mereka yang masih kecil. “iya, sekali lagi terimakasih ya.”
Kata si bapak itu sambil melambaikan tangan.
Terlukis jelas kebahagian di wajah kedua orang tua itu,
dengan hati yang sangat bahagia aku beranjak meninggalkan tempat itu, setelah
membayar aku langsung menuju mobil dan menikmati suasana sore yang indah.
Sambil mendengarkan lagu yang pelan, aku memacu kendaraan ku menuju rumah. Tak
terbendung lagi airmata kebahagiaan ini, dan aku harap Tuhan semua ini adalah hikmah
kehidupan yang Engkau tunjukkan kepadaku untuk hidup di masa depan yang lebih
baik.
Mungkin itu adalah salah satu dari sebagian orang yang
bisa di temui, padahal di luar sana mungkin masih ada banyak sekali orang yang
bernasib seperti bapak dan ibu tadi.
Apa salahnya kita
sebagai orang yang lebih mampu untuk membagi sebagian kecil hartanya kepada
orang kurang mampu. Karena dimana-mana kebaikan seseorang pasti semua akan
mendapat imbalan yang sebanding pula. Kita juga belum tentu lebih baik dari
orang-orang yang kurang beruntung itu, jadi kita sebagai umat manusia yang
mempunyai nilai sosial apa salahnya kita jika bisa memaknai hikmah kehidupan.
“Hidup
itu tak mudah, tapi jika kamu dapat melewatinya, apa yang kamu raih nanti akan
sebanding bahkan bisa lebih hasilnya dari apa yang telah kamu korbankan”
Komentar
Posting Komentar